Kelompok Tani dan Mahasiswa KKN Sungai Buluh Kembangkan Hasil Kebun Lewat Pasar Digital

MUARA BULIAN — Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Sungai Buluh, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari, Jambi, mengembangkan kegiatan pertanian sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat sekaligus penguatan ekonomi warga. Hasil kebun mulai diarahkan untuk dipasarkan melalui kanal digital agar menjangkau konsumen lebih luas.
Kegiatan pertanian KWT berlangsung pada Sabtu (15/8/2026) pukul 09.00–16.00 WIB di kebun KWT. Anggota KWT bersama ibu-ibu PKK dan masyarakat terlibat dalam sejumlah kegiatan, mulai dari membersihkan lahan, mengolah tanah, pembibitan, pemupukan, penyiraman hingga panen.
Ketua KWT Desa Sungai Buluh Karmila mengatakan, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam pengelolaan kebun. Keanggotaan KWT terbuka bagi ibu-ibu yang ingin berpartisipasi sehingga kebun tidak hanya menjadi tempat bercocok tanam, tetapi juga ruang untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan produktif.
Kebun KWT saat ini dimanfaatkan untuk membudidayakan sejumlah komoditas, antara lain kangkung, kacang, cabai, dan ubi. Keberagaman tanaman tersebut menjadi upaya untuk mengoptimalkan lahan sekaligus membuka peluang pendapatan dari hasil pertanian.
Salah satu komoditas yang telah dipanen ialah kangkung. Dalam satu kali panen, KWT menghasilkan sekitar 200 ikat kangkung dengan harga sekitar Rp5.000 per ikat. Jika seluruh hasil panen terjual, nilai penjualan dapat mencapai sekitar Rp1 juta.
Potensi tersebut kemudian dikembangkan melalui pemasaran digital. Pemanfaatan media digital dilakukan untuk menyampaikan informasi mengenai ketersediaan hasil panen, memperkenalkan produk kepada calon pembeli, serta memudahkan proses pemesanan.
Salah satu konsumen hasil kebun melalui pemasaran digital ialah Nursiah, warga RT 15 Desa Sungai Buluh. Pemanfaatan media digital memungkinkan informasi produk diterima konsumen tanpa harus datang langsung ke lokasi kebun.
Bagi KWT Sungai Buluh, digitalisasi menjadi bagian dari upaya mengubah hasil pertanian menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Hasil kebun tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan konsumsi, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan apabila dikelola dan dipasarkan secara tepat.
Keterlibatan anggota KWT, PKK, dan masyarakat dalam kegiatan tersebut juga memperkuat semangat gotong royong. Berbagai tahapan pengelolaan kebun dilakukan bersama, mulai dari persiapan lahan hingga panen.
KWT Desa Sungai Buluh berharap kegiatan pertanian dan pemasaran digital dapat terus berkembang. Pengelolaan komoditas yang beragam serta pemanfaatan teknologi digital dinilai dapat menjadi modal untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat desa.
Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat di Sungai Buluh tidak berhenti pada aktivitas produksi. Hasil kebun mulai dihubungkan dengan peluang pasar yang lebih luas melalui teknologi, sehingga kegiatan pertanian dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.